Rabu, 05 Juni 2013

Di Balik Frekuensi "Sebuah Kisah Berjuta Makna"

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 06.29 0 komentar
Awal Mei kemarin, tepatnya di tanggal 4 Mei 2013, setelah menyiapkan semuanya dengan matang, saya dan teman-teman panitia event ComPhoria2013 a.k.a Communication Euphoria 2013 yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswi Ilmu Komunikasi Angkatan 2010 Univeritas Mulawarman Samarinda, akhirnya dengan sukses dapat memutar film documenter “Di Balik Frekuensi” di Gedung Pusrehut Unmul. Kegiatan pemutaran film ini merupakan salah satu dari rangkaian acara kami di ComPhoria2013. Film bergenre feature documentary ini mengungkap kondisi media massa saat ini, khususnya televisi pasca-reformasi.

suasana pemutaran film DBF bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmul


Review Film Di Balik Frekuensi



Film documenter “Di Balik Frekuensi” karya Ucu Agustin ini merupakan salah satu film documenter dengan durasi yang terpanjang di Indonesia, yakni sekitar 144 menit. Tetapi meskipun memiliki durasi yang cukup panjang, film ini menurut saya tidak membosankan, karena film Di Balik Frekuensi ini mengangkat kisah nyata yang menggugah simpati kita. Sebuah kisah tentang perjuangan wanita bernama Luviana, seorang jurnalis MetroTV yang di PHK dari tempat dia bekerja dan juga Haris Suwandi, salah satu korban Lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Sidoardjo hingga ke Jakarta untuk memperjuangkan haknya.

Dalam film Di Balik Frekuensi ini dikisahkan bagaimana Luviana yang telah bekerja selama 10 tahun di MetroTv sebagai Assisten Producer News kemudian dimutasi dari Newsroom ke HRD, namun Luviana menolak karena dirinya adalah seorang Journalist. Ia pun akhirnya di PHK secara sepihak oleh MetroTV karena mempertanyakan sistem manajemen di stasiun berita "burung biru" tersebut yang tidak berpihak pada pekerja, dan juga mengkritisi independensi newsroom yang kerap dipakai oleh kepentingan pemilik. Meskipun Luviana sempat berunding dengan Surya Paloh selaku pemilik MetroTV untuk meminta haknya, namun Luviana hanya diberi janji janji palsu oleh Surya Paloh dan tetap berakhir dengan PHK tanpa pesangon dan tanpa gaji selama 6 bulan.
Kisah selanjutnya dalam film Di Balik Frekuensi adalah Haris Suwandi, salah satu korban Lumpur Lapindo yang memperjuangkan haknya dengan berjalan kaki selama satu bulan penuh dari Sidoardjo ke Jakarta. Dalam film tersebut tergambar jelas bagaimana Haris Suwandi yang ditemani kawannya Harto Wiyono berjalan kaki dengan sandal jepit yang sudah menua sebagai alas kakinya walaupun peluh dan panasnya aspal mengiringi perjalanan mereka.
Setiap perjuangan selalu ada kerikil yang menghalangi, pemberitaan di TvOne awalnya membuat Haris Suwandi kecewa. Ia dikatakan bukan korban Lumpur Lapindo, bahkan oleh Aburizal Bakrie sendiri menganggap ia hanya menjadi pencari sensasi semata. Namun entah ada angin apa, Haris Suwandi yang mulanya kecewa dan marah akhirnya meminta maaf kepada keluarga Bakrie. Dan sampai film ditayangkan Haris Suwandi pun tak diketahui keberadaannya.

At Last But Not Least....
Dua kisah diatas adalah bagian dari film Di Balik Frekuensi, dan melalui pemutaran film tersebut pada #PekanMaydayBersama_DBF, saya dapat lebih melihat dengan jelas realitas yang sebenarnya terjadi di media massa saat ini khususnya televisi. Bagaimana konglomerasi media menjadi dominan dan penentu agenda setting dalam masyarakat. Bagaimana “orang kecil” sulit meminta haknya. Hal yang menggelitik dan mengundang tawa kesal, ketika dalam film tersebut menayangkan fakta mengenai pemberitaan di televisi.
Jika kita perhatikan dalam film Di Balik Frekuensi, terlihat sekali Metro Tv ketika memberitakan kasus Haris Suwandi, korban Lumpur Lapindo, sangat tajam dan pedas. Begitu juga dengan TvOne ketika memberitakan kasus Luviana. Namun saat kedua media tersebut memberitakan kasus masing–masing. Misalnya saja Metro Tv membahas kasus Luviana dan TvOne membahas kasus Haris Suwandi, justru mendapatkan tampilan berita yang berbeda, jauh sekali bahkan.
Dalam film terlihat bahwa keserakahan justru mengaburkan fakta–fakta yang ada. Di Balik Frekuensi berhasil memotret, ya inilah faktanya, antara idealisme, kepentingan dan ekonomi tidak akan dapat melebur menjadi satu, semuanya memiliki ego yang sama–sama kuat. Kalau begini akankah televisi menjadi "tell lie vision"..??!!

Begitulah sedikit gambaran yang saya dapat setelah menonton film Di Balik Frekuensi bersama mahasiswa Unmul, para dosen ilmu komunikasi, dan berbagai media local di Samarinda.

Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli. Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi. Media Mengabdi Publik, Tidak Menghamba pada Pemilik.” Yah itu beberapa quotes yang saya catat dan saya suka dari film Di Balik Frekuensi karya Ucu Agustin. Semoga bermanfaat untuk kita semua, dan mari kita menjadi orang-orang yang kritis serta tidak mudah terjebak oleh tayangan-tayangan yang ada di media massa J

sedikit foto kenang-kenangan bersama dosen dan pemateri seminar bedah film DBF :')

Note : Posted by : Aisyah Kadir
                            NIM: 1002055058

 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos