Awal Mei kemarin,
tepatnya di tanggal 4 Mei 2013, setelah menyiapkan semuanya dengan matang, saya
dan teman-teman panitia event ComPhoria2013 a.k.a Communication Euphoria 2013
yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswi Ilmu Komunikasi Angkatan 2010 Univeritas
Mulawarman Samarinda, akhirnya dengan sukses dapat memutar film documenter “Di
Balik Frekuensi” di Gedung Pusrehut Unmul. Kegiatan pemutaran film ini
merupakan salah satu dari rangkaian acara kami di ComPhoria2013. Film bergenre
feature documentary ini mengungkap kondisi media massa saat ini, khususnya
televisi pasca-reformasi.
![]() |
| suasana pemutaran film DBF bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmul |
Review Film Di Balik
Frekuensi
Film documenter “Di
Balik Frekuensi” karya Ucu Agustin ini merupakan salah satu film documenter dengan
durasi yang terpanjang di Indonesia, yakni sekitar 144 menit. Tetapi meskipun
memiliki durasi yang cukup panjang, film ini menurut saya tidak membosankan,
karena film Di Balik Frekuensi ini mengangkat kisah nyata yang menggugah simpati kita. Sebuah
kisah tentang perjuangan wanita bernama Luviana, seorang jurnalis MetroTV yang
di PHK dari tempat dia bekerja dan juga Haris Suwandi, salah satu korban Lumpur
Lapindo yang berjalan kaki dari Sidoardjo hingga ke Jakarta untuk memperjuangkan
haknya.
Dalam film Di Balik Frekuensi ini
dikisahkan bagaimana Luviana yang telah bekerja selama 10 tahun di MetroTv
sebagai Assisten Producer News kemudian dimutasi dari Newsroom ke HRD, namun
Luviana menolak karena dirinya adalah seorang Journalist. Ia pun akhirnya di
PHK secara sepihak oleh MetroTV karena mempertanyakan sistem manajemen di
stasiun berita "burung biru" tersebut yang tidak berpihak pada pekerja, dan juga
mengkritisi independensi newsroom yang kerap dipakai oleh kepentingan pemilik.
Meskipun Luviana sempat berunding dengan Surya Paloh selaku pemilik MetroTV
untuk meminta haknya, namun Luviana hanya diberi janji janji palsu oleh Surya
Paloh dan tetap berakhir dengan PHK tanpa pesangon dan tanpa gaji selama 6
bulan.
Kisah
selanjutnya dalam film Di Balik Frekuensi adalah Haris Suwandi, salah satu korban Lumpur
Lapindo yang memperjuangkan haknya dengan berjalan kaki selama satu bulan penuh
dari Sidoardjo ke Jakarta. Dalam film tersebut tergambar jelas bagaimana Haris
Suwandi yang ditemani kawannya Harto Wiyono berjalan kaki dengan sandal jepit
yang sudah menua sebagai alas kakinya walaupun peluh dan panasnya aspal
mengiringi perjalanan mereka.
Setiap perjuangan selalu ada kerikil yang
menghalangi, pemberitaan di TvOne awalnya membuat Haris Suwandi kecewa. Ia
dikatakan bukan korban Lumpur Lapindo, bahkan oleh Aburizal Bakrie sendiri
menganggap ia hanya menjadi pencari sensasi semata. Namun entah ada angin apa,
Haris Suwandi yang mulanya kecewa dan marah akhirnya meminta maaf kepada
keluarga Bakrie. Dan sampai film ditayangkan Haris Suwandi pun tak diketahui
keberadaannya.
At Last But Not Least....
Dua kisah diatas
adalah bagian dari film Di Balik Frekuensi, dan melalui pemutaran film tersebut
pada #PekanMaydayBersama_DBF, saya dapat lebih melihat dengan jelas realitas
yang sebenarnya terjadi di media massa saat ini khususnya televisi. Bagaimana konglomerasi media menjadi dominan dan
penentu agenda setting dalam masyarakat. Bagaimana “orang kecil” sulit meminta
haknya. Hal yang menggelitik dan mengundang tawa kesal, ketika dalam film
tersebut menayangkan fakta mengenai pemberitaan di televisi.
Jika kita perhatikan dalam film Di Balik Frekuensi, terlihat
sekali Metro Tv ketika memberitakan kasus Haris Suwandi, korban Lumpur Lapindo,
sangat tajam dan pedas. Begitu juga dengan TvOne ketika memberitakan kasus
Luviana. Namun saat kedua media tersebut memberitakan kasus masing–masing.
Misalnya saja Metro Tv membahas kasus Luviana dan TvOne membahas kasus Haris
Suwandi, justru mendapatkan tampilan berita yang berbeda, jauh sekali bahkan.
Dalam film terlihat bahwa keserakahan justru
mengaburkan fakta–fakta yang ada. Di Balik Frekuensi berhasil memotret, ya
inilah faktanya, antara idealisme, kepentingan dan ekonomi tidak akan dapat
melebur menjadi satu, semuanya memiliki ego yang sama–sama kuat. Kalau begini
akankah televisi menjadi "tell lie vision"..??!!
Begitulah sedikit gambaran yang saya dapat
setelah menonton film Di Balik Frekuensi bersama mahasiswa Unmul, para dosen
ilmu komunikasi, dan berbagai media local di Samarinda.
“Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli.
Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi. Media Mengabdi Publik, Tidak Menghamba
pada Pemilik.” Yah itu beberapa quotes yang saya catat dan saya suka dari film
Di Balik Frekuensi karya Ucu Agustin. Semoga bermanfaat untuk kita semua, dan mari kita
menjadi orang-orang yang kritis serta tidak mudah terjebak oleh
tayangan-tayangan yang ada di media massa J
![]() |
| sedikit foto kenang-kenangan bersama dosen dan pemateri seminar bedah film DBF :') |
Note : Posted by : Aisyah Kadir
NIM: 1002055058
























0 komentar:
Posting Komentar