Selasa, 05 Februari 2013

Liburan Seminggu di Pulau Sulawesi

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 19.23
Assalamualaikum semuanya. Sudahkah anda senyum dan tertawa hari ini.? Harusnya sudah yah, karena senyum itu ibadah dan tertawa itu menyehatkan, asal jangan tertawa yang berlebihan sampe ketawa-ketawa sendiri yah, ntar disangka orang gila lagi, hehehe. Oke, Alhamdulillah saya yang blogger pemula ini sudah sedikit-sedikit mengerti ngotak-ngatik blog saya dan bereksperimen sendiri, istilah kerennya sih otodidak. Maklum saya bikin blog ini baru-baru aja, dan dengan berbekal keberanian, #tsah :p serta google yang sudah bersedia menjadi dosen pembimbing saya dalam dunia blogging ini, blogging saya sudah agak terlihat nampak seperti blog sungguhan (apasih.? saya nggak ngerti ngomong apa nih)

Well, di postingan saya kali ini, saya mau berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman saya setahun yang lalu ketika saya dan bapak ibu saya terbang ke salah satu kota di provinsi Sulawesi Selatan, yaitu kota Pare-pare. Agan dan aganwati sudah pernah kesana belum..? Atau jangan-jangan malah baru pertama kali dengar yah. Okelah kalau begitu, saya bakalan cerita dikit deh mengenai kota tersebut.

WELCOME TO PARE-PARE
salah satu tugu kota Pare-pare di pinggir laut

Pare-pare adalah kota di mana saya dilahirkan, juga kota di mana bapak saya dilahirkan, juga kota di mana eyang saya B.J Habibie di lahirkan. Eyang saya B.J Habibie adalah presiden RI yang ke-3, pastinya pada tau kan, wong baru-baru ini kan ada tuh film cinta romantis sepanjang masanya Eyang B.J Habibie yang judulnya "Habibie dan Ainun"

Pare-pare yang terletak bersebelahan dengan kabupaten Pinrang (sebelah utara), Selat Makassar (sebelah selatan), kabupaten Sidenreng Rappang (sebelah timur), dan kabupaten Barru (sebelah selatan) ini  terkenal sebagai kota transit dan juga penyangga bagi kota-kota lain di wilayah Sulawesi Selatan, barat, dan tengah. Yah karena di Pare-pare ini sendiri terdapat pelabuhan, tempat transit kapal-kapal dari berbagai daerah yang akan ke pulau Sulawesi. Sebenarnya saya sendiri tidak banyak tau mengenai kota Pare-pare ini, karena sewaktu saya berkunjung ke sana, hanya untuk menghadiri acara keluarga bapak saya, dan hari-hari saya pun cuman berkumpul di rumah melihat kesibukan ibu-ibu dan bapak-bapak menyiapkan acara adat bugis di sana. Walhasil kegiatan saya di sana, cuman main hape, browsing, dan foto-foto narsis dengan sepupu-sepupu saya. (hehehe, emang udah jadi habit saya). 
pasang behel dimana ni bocah..?

Selena gomez bersama sepupunya


Dari kiri ke kanan: Tante pake baju itam (nda tau namanya), Om PNS, Bapak keren, Selena Gomez.
Saya di Pare-pare kurang lebih hanya 5 hari kalau tidak salah ingat. Dan dalam waktu 5 hari yang singkat itu saya mendapat pengalaman yang cukup berharga, karena saya bisa melihat bagaimana kota Pare-pare sebenarnya, kota tempat dilahirkannya salah satu pemuda bangsa berprestasi, Eyang B.J Habibie, saya juga mendapat pengetahuan mengenai adat orang-orang bugis di sana yang jiwa kebersamaannya sangat tinggi, dan juga berkesempatan melihat keindahan laut serta pantai Lumpue yang terletak di selatan kota dan menghadap langsung ke barat ke arah teluk Pare-pare. Waktu terbaik untuk mengunjungi pantai Lumpue yang berpasir hitam ini adalah sewaktu matahari terbenam istilah kerennya mah "sunset" :p

gilak keren banget kan sunsetnya..?
Dannnnn setelah acara di Pare-pare selesai, saya dan bapak ibu saya akhirnya bertolak ke Makassar untuk menghadiri acara syukuran rumah baru om saya. It's time for leaving this cool city, PARE-PARE

HALO MAKASSAR....!!!

Perjalanan dimulai lagi, saya dan bapak saya ke Makassar dengan menggunakan sepeda motor om saya, sebenarnya ibu saya menyuruh saya ikut naik mobil dengan keluarga saya yang lain, tetapi saya memilih naik motor saja, soalnya sih lebih enak buat liatin pemandangan kan, bisa kena angin sepoi-sepoi juga, dan tidak mabuk darat (hahahaa). Soalnya jarak antara Pare-pare ke Makassar itu lumayan jauh loh, sekitar 200 km dan juga melewati beberapa kabupaten, yaitu kabupaten Barru, Pangkep, dan Maros. Beuh... selama di perjalanan menuju ke Makassar dengan mengenderai sepeda motor bersama bapak saya, benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan, karena saya dapat melihat hamparan sawah di pinggir jalan, melihat lautan di pinggir jalan poros, serta jejeran rumah-rumah adat bugis. Dengan berkendara di atas motor, pemandangan memang terlihat jelas gan, ketimbang naik mobil. 

salah satu rumah adat bugis yang saya abadikan
Cuplikan video perjalanan saya ke Makassar 

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, saya akhirnya tiba di Makassar sekitar pukul 21.00 WITA. Saya di Makassar hanya sehari dua malam saja, karena besoknya saya dan orangtua saya harus ikut berpartisipasi dalam acara syukuran rumah baru om saya. Lalu di sore harinya, saya, om, dan bapak saya menyempatkan diri untuk menikmati sunset di Pantai Losari sebelum bertolak kembali ke Bontang. Malam harinya saya sempat jalan-jalan ke Mall-mall yang ada di Makassar dengan teman SMA saya (nama sengaja tidak disebutkan, karena dia sedang buron, hahaa) yang sedang kuliah di UNHAS. Saya juga sempat melihat sekilas benteng Rotterdam di Makassar, keliling kampus UNHAS di malam hari, makan mie goreng murah ala anak kampus di salah satu kantin yang terletak di kawasan Kampus UNHAS, dan berbelanja sedikit oleh-oleh di Makassar. Cuman yang agak disayangkan saya tidak sempat mengabadikan banyak foto di Makassar dikarenakan waktu yang mendesak. Keesokan hari, tepat setelah adzan subuh, saya dan orangtua saya berkemas-kemas untuk kembali ke Bontang. Pagi itu om saya mengantarkan kami bertiga ke Bandara Sultan Hasanuddin. 

Begitulah sekilas cerita saya setahun lalu saat berkunjung ke Pulau Sulawesi di Provinsi Sulawesi Selatan, walaupun cuman seminggu di sana. Banyak pengalaman yang saya dapat, Mudah-mudahan kalau ada waktu luang, umur panjang, dan uang yang banyak. Saya akan touchdown lagi ke sana. Amin ya Rabb. Thanks for reading guyss...

Selena Gomes di pantai Losari..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos