Jumat, 11 Juli 2014

Jalan Tuhan

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 23.57 0 komentar
Ketika yang ku genggam pun akhirnya menghilang,
Sudah pasti Tuhan tak berkenan...
Dan ketika yang ada kini datang lantas bertahan..
Sudah pasti Tuhan menginginkan.

- inspirasi selepas ba'da Dzuhur
Bontang, 12 July 2014

Untuk Istriku Yang Bermasjid Di Gereja

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 04.33 0 komentar
Kamu tentu tau aku mencintaimu
Hingga aku harus melawan semua norma yang ada..
Hingga aku harus menutup telinga dari setiap cercaan dan makian.

Kamu tentu mengerti banyaknya masalah yang harus kuselami.
Hanya untuk bersatu dengan dirimu sayang..
Untuk bisa merengkuh setiap jengkal pelukmu.

Kamu pasti memaklumi, kalau aku mencintaimu..
Walau tasbihku berbeda dengan kalung salibmu.
Walau kitab bacaanku berbeda dengan kitab bacaanmu.
Salahkah perbedaan itu sayang ?

Aku mencicipi segala yang haram,
Segala yang katanya hina.
Segala yang berkhianat.
Hanya untuk sampai pada pelukmu..

Dosakah kita jika hanya ingin memperjuangkan cinta ?
Patutkah cinta kita dibela, jika semua orang berkata ini hina ?

Ceritakan pada mereka sayang, bahwa kita bahagia.
Katakan pada mereka sayang, bibir kita tidak berdusta.
Ceritakan pada mereka tentang kebahagian kita.

Untuk Istriku Yang Bermasjid Di Gereja.
Dari Suamimu Yang Setia Menunggumu Di luar Setiap Minggu.

Rabu, 02 Juli 2014

Maaf, Ini Soal Hati..

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 10.20 0 komentar
Selamat larut malam,

Aku masih terjaga di dini hari ini. Mungkin karena efek Frappucinno Oreo yang aku teguk beberapa jam yang lalu selepas sholat tarawih tadi. Aku lupa, kalau Frappucinno itu ternyata nama lain dari salah satu jenis Kopi. Iya, intinya Kopi yang dibuat sedemikian rupa tapi tetap saja minuman bernama keren itu adalah segelas Kopi.

Bodoh yah, padahal aku sudah tau betul kalau lambungku ini sangat sensitif dengan semua hal bernama KOPI. Mengapa tetap saja aku meneguknya ? Jadilah aku di sini malam ini, dengan mata segar dan perut agak mual memikirkan tentang sebuah Pertemuan. Apakah pertemuan itu hanyalah sebuah kebetulan ?

Benar, aku sedang memikirkan tentang pertemuan kita :) dan aku selalu percaya bahwa pertemuan itu bukanlah sebuah kebetulan. Karena entah dengan keajaiban apa, Tuhan menyebabkan kita saling berkenalan. Aku akui, perkenalan kita pada awalnya biasa saja, aku malah menganggapmu pria iseng yang memang sering menebar pesona kepada banyak wanita. Namun, meskipun begitu aku tetap saja mau meladeni setiap chat yang kau kirim ke akun sosialku. Aku juga tidak mengerti kenapa, apa karena sebelumnya aku sudah merasakan ada getar yang berbeda saat pertama kali melihat kamu berdiri di ujung pintu kantor sore itu. Ah..entahlah.

Aku juga masih gamang dan tak tau arti tatapanmu setiap kali kau menatap mataku dan menceritakan semua kisah-kisahmu. Aku hanya berusaha mendengarkan dengan baik. Aku benar-benar tak tau hal ini dinamakan apa., kita memang berkenalan belum terlalu lama, namun rasanya aku selalu ingin di dekatmu juga berada di sampingmu.

Aku berjalan melalui hari tidak seperti biasanya setelah bertemu denganmu. Aku berubah menjadi seorang wanita yang selalu melihat ke layar handphone hanya untuk mencari keberadaan pesanmu di sana. Padahal sebelumnya memegang handphone saja aku malas. Oh, jangan bilang aku mulai menaruh rasa padamu. Secepat inikah ?

Dalam keadaan sering kehilangan kamu, aku selalu mempertanyakan apa yang Tuhan mau. Aku melihatmu sebagai sesosok pria seiman yang tangguh, dewasa, menyenangkan, humoris juga pendengar yang baik. Kamulah pria yang selama ini kehadirannya selalu kutunggu. 

Aku menatap matamu, kemudian aku menyadari betapa semua ini bisa saja berakhir jika kau bosan. Setiap kali melihat matamu, setiap kali mengingat perkenalan kita yang nampaknya hanya persinggahan buatmu, rasanya aku semakin merasa kecut. Aku ingin sekali menangis dan air mata ini belum tentu kau pahami.

Rasanya aku ingin memberhentikan pencarianku padamu. Rasanya aku ingin hubungan kita bisa lebih lama dari yang kubayangkan dan kutakutkan. Rasanya aku ingin berkata padamu, bahwa aku menunggumu tak lagi menjadikanku perlarian, aku menunggumu tak lagi menjadikanku tempat persinggahan. Aku menunggumu menjadikanku tujuan, menjadi tempat kau selalu pulang, menjadi peluk tempat kau meletakkan tangis. 

Untuk tuan sang pengembara, maukah kau mengenalkanku pada ibumu ?
Maukah kau kuperkenalkan pada ibuku ? 
Maukah kau berhenti menyembunyikanku dari sorotan mata dunia ?
Ku harap kau bukan sekedar Frappucinno yang ternyata segelas Kopi yang tak boleh kuteguk.

dari perempuan,
yang selalu mendengar ini darimu:
"Semangat Cha.."

Selasa, 01 Juli 2014

Di Penghujung Sore..

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 03.16 1 komentar
Sore kali ini, langit begitu teduh. Senja memerah di ufuk barat..
Sore kali ini, langit terlihat indah dimataku. Garis-garis magenta terbias di antara langit jingga yang berpadu biru..
Disini aku terpaku, di penghujung sore menatap matahari terbenam dalam diamku.


Sungguh benar jika dikatakan hidup hanya terpaku soal sabar dan bersyukur.
Bersabar dalam setiap ujian, cobaan dan setiap liku dera kehidupan. Lalu bersyukur dan merasa cukup atas semua anugerah kebaikan yang Tuhan berikan. 
Tapi terkadang Tuhan menginginkan kebalikannya, suatu saat dalam hidupmu kau benar harus mampu bersyukur untuk setiap cobaan dan ujian yang Tuhan berikan. Dan kau pun benar-benar harus belajar bersabar untuk segala anugerah kebaikan dan bahagia yang Tuhan berikan. Sebab, boleh jadi setiap kebahagiaan yang kau terima adalah cobaan yang melenakan. Membuatmu lupa untuk siap siaga saat kebahagian itu sewaktu-waktu menghilang.

Seperti halnya Cinta...
Suatu kali cinta melenakan. Memesona dengan segala kebahagiaan yang ditawarkan. Menyuntikkan semangat ke aliran darah hingga kau merasa antusias atas setiap hal yang kau lakukan. Membuat harimu menjadi berwarna, seperti berdiri pada sebuah taman hijau maha luas di mana setiap sudutnya dihiasi bunga-bunga, kupu-kupu, dan pelangi. Tapi cinta —suatu kali — menjadi sedemikian menjengkelkan. Membuat wajahmu memasang seringai murung. Mengubah harimu menjadi panjang dengan sunyi dan kesepian. Seperti masuk ke lubang pengap bernama keputusasaan, saat cinta yang kau jaga begitu saja meninggalkanmu dan hilang.

Aku tak mengerti mengapa cinta bisa merupa buah simalakama. Saat dimakan membuat ibu mati, bila dibiarkan membuat ayah mati. Apa yang akan kau pilih ? Buatku, cinta adalah sekumpulan paradoks yang membingungkan. Maka meskipun menyakitkan, cinta tetaplah membahagiakan. Biarkan saja cinta memaknai dirinya sendiri. Seorang ksatria yang tangguh pantang mundur saat panji-panji sudah dikibarkan. Tak mungkin kembali ke belakang, sebab jembatan-jembatan sudah terbakar. Pilihan terbaik adalah terus berjalan.

Maka, jika pada akhirnya cinta membuatmu merasa ditinggalkan dan kehilangan, tetaplah berdiri dengan gagah bersama ketulusan dan kerelaan.  Tapi, kau tak perlu cemas, kan? Jika hanya berfokus pada cinta yang menyakitkan, bagaimana bisa bahagia? Fokus saja pada hal yang membahagiakan, hingga pada apapun yang kau lakukan untuk memaknai cinta, kau akan tetap merasa bahagia. Jangan lupa persiapkan sabar dan syukur saat menjaga cinta yang kau punya, agar kau memiliki kerelaan dan ketulusan untuk memaknai cinta tanpa rengekan.
Lalu, bagaimana cara kau memaknai cinta?
Apa cinta benar-benar harus memiliki?
Jika iya, bagaimana caraku memilikimu?

Salam,
Icha.
 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos