Dulu sekali setiap saya sedang emosi, sedih, ataupun sedang tidak berminat melakukan apa-apa, memakan eskrim adalah salah satu hal yang dapat membuat saya sedikit lebih tenang. Ya, eskrim yang dingin dan manis mampu menjadi obat pembangkit mood saya yang sedang down. Tapi itu dulu, dulu sewaktu saya belum mengenal "dia", eskrim selalu mampu membuang segala penat yang ada dalam pikiran saya.
Mengapa aku menulis dia..? Iya dia yang saya kenal dulu sekali, sewaktu saya masih mengenakan seragam bewarna putih abu-abu. Dia yang pernah mengisi hari-hari saya walaupun hanya sebentar, namun benar-benar berkesan, buktinya sampai saat ini pun saya masih mengingat setiap detail cerita tentang dia. Entah apakah karena cerita tentang dia memang sepenuhnya berkesan ataukah memang saya hanya seorang wanita melankolis yang selalu mengingat hal-hal yang seharusnya tidak perlu disimpan oleh memori jangka panjang saya.
Benar, masih teringat jelas wajahnya yang meneduhkan hati itu, dan masih terasa nyata genggaman tangannya yang begitu hangat. Dia, yang setiap pulang sekolah, atau sekedar datang menemui saya di rumah membawakan makanan kesukaan saya "eskrim". Dia sangat mengenal saya, meskipun perkenalan kami tidak terlalu lama bahkan relatif singkat, tapi dia tau saya sangat menyukai eskrim. Maka jadilah dia selalu membelikan saya eskrim, walau terkadang uangnya yang juga cuman anak sekolahan tidak cukup untuk membelikan saya sepotong eskrim walls blackforest blossom.
Ah, setiap mengenang masa itu, bukan kesedihan yang muncul, melainkan sebuah senyuman yang terukir di wajah saya. Dulu, saya senang sekali bercerita segala hal bersamanya, semua imajinasiku yang tidak masuk di akal, mulai dari ingin menjadi tukang isi bensin, dan berkata "di mulai dari nol yah" aneh memang, tapi dia dengan senyuman teduhnya itu selalu mampu mengisi hari-hariku. Dia yang selalu membawakan saya eskrim. Eskrim yang dulu menjadi pembangkit mood, namun tidak lagi sama semenjak kepergiannya, eskrim yang saya makan rasanya memang masih sama, masih dingin dan manis, tapi tidak lagi mampu membangkitkan mood, cuman ada satu rasa yakni hampa...
Sama seperti hujan, bagi orang hujan itu anugrah, bagi sebagian orang juga hujan itu romantis. Namun dulu sekali juga saya sangat membenci hujan. Hujan membuat semua mood saya rusak seketika. Saya memang memiliki penyakit kejiwaan yang sangat tergantung oleh musim atau cuaca, mood saya sangat tidak baik terutama ketika hujan turun. Tapi tidak saat saya mengenal dia. Justru saya berterima kasih kepada hujan, hujan di malam pergantian tahun kala itu, membuat saya mengerti dia memang laki-laki yang meneduhkan hati. Di bawah atap toko kelontongan malam itu, dia melindungi saya dari rintik-rintik hujan yang jatuh dari awan. Hujan yang membuat saya tertidur di bahunya, hujan yang membuat saya semakin dekat dengannya, hujan yang menahannya bersama saya walau hanya beberapa jam, hujan yang juga akhirnya memisahkan kita. Dan pada akhirnya membuat saya kembali membenci kala hujan turun.
Eskrim dan hujan, dua hal yang berbeda namun memiliki kenangan yang sama. Satu kenangan tentang dia. Menggelikan saat saya kembali memikirkan kisah dulu, kisah putih abu-abu itu, dulu kita pernah menjadi orang terdekat dalam kehidupan masing-masing, dulu kita pernah bertukar pesan singkat sepanjang hari sekedar menanyakan kau sedang apa, kau dimana, atau sekedar berkirim puisi yang menjadi hobinya. Menggelikan saat dulu kau bilang tidak dapat tidak bertemu dengan saya walau hanya sehari. Namun kini saya dan kamu adalah orang asing dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan dunia saya yang baru, kamu dengan duniamu yang begitu menyenangkan, yah hasil kesimpulan yang saya dapat setiap kali saya melihatmu dari facebook ataupun twittermu.
Menyedihkan memang eskrim dan hujan yang dulu kita berdua sama-sama sukai, sekarang hanyalah memori dalam pikiran masing-masing. Lebih menyedihkan lagi bagaimana mungkin orang yang dulu pernah begitu dekat sekarang terasa sangat jauh, benar-benar menjadi orang asing yang sesungguhnya. Ah, beginilah adanya kehidupan, terus berjalan, tidak peduli dengan masa lalu yang kadang masih ingin menjadi tempat saya untuk tinggal, sekedar mencari kamu yang dulu, yang pernah begitu dekat dengan saya...
Hei kamu, dapatkah kita berbincang, sekedar bertegur sapa, sekedar menanyakan bagaimana hidupmu berjalan beberapa tahun terakhir ini, apa yang sedang kau kerjakan, apa yang sekarang kamu sukai, bagaimana keadaan keluargamu, dan masih banyak lagi hal yang ingin saya tanyakan. Mungkinkah kita dapat saling bertukar cerita lagi di taman sambil memakan eskrim coklat dan pulang ke rumah saat melihat awan mendung datang dan tau hujan akan turun. Ya, dapatkah semuanya di mulai dari nol lagi..?? Tidak perlu di jawab, aku rasa jawabannya tidak kan..?! :))





















1 komentar:
Kerennn... bisa sayang org smpe bgini macam... biasanya perempuan lain slalu mengangkat telapak tangan mengemis kpd Yang Maha Kuasa agar menggantikan masa lalunya dengan yg lebih baikk... beehhhh...
Posting Komentar