Minggu, 11 Agustus 2013

SKETSA

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 07.20
Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, jari-jariku juga masih mengetikkan semua perasaan yang aku rasakan, dan kejadian yang aku alami. Ditemani secangkir coklat hangat kesukaanku, aku kembali mengetik semua cerita yang aku alami di kampus.  Baiklah dari sini ceritanya bermulai…

Akhir-akhir ini aku kembali menekuni kebiasaan lama yang sudah lama tidak aku kerjakan. Menggambar sketsa. Iya, menggambar sketsa adalah hobiku sejak di sekolah dasar, aku suka menggambar apa saja yang aku lihat, semuanya bisa menjadi objek sketsaku, bahkan semuanya pun bisa menjadi kanvas tempatku menggambar sketsa, aku masih ingat bagaimana aku membuat marah ibuku sewaktu SD dulu karena aku menggambari semua dinding-dinding rumah dengan gambar abstrak yang dibuat oleh tangan kecilku waktu itu. Hingga aku duduk di bangku SMA, aku mulai meninggalkan kebiasaanku menggambar sketsa, mulai lupa dengan hobi menggambar apa saja yang aku lihat.

Tapi hari itu, hari ketika aku menyandang predikat sebagai mahasiswa, aku kembali ingat dengan hobi menggambar sketsaku. Hari itu Aku kembali memegang pensil 2b dan sebuah buku tulis kosong lalu kemudian mulai menggambar sketsa dengan satu objek. Objek yang sedari tadi aku perhatikan di dalam kelas, objek sketsaku yang terus tertawa dan mengoceh tak jelas dengan teman-teman sekelasku, objek yang membuat hatiku kembali tergerak untuk menggambar sketsa. Dia – sang objek sketsaku ini adalah sesosok laki-laki yang selalu tertawa, pembawaannya begitu riang, melihatnya seperti itu dia terihat seperti tidak memiliki masalah dan tidak pernah sedih, sangat berbeda dengan diriku yang memiliki banyak masalah dalam hidup dan aku simpan rapat-rapat dalam hatiku sendiri.

Hari itu, aku menggambar sketsa wajahnya, menggambar setiap detail raut wajah dan ekspresinya. Aku menggambar sketsa wajahnya setiap jam pergantian kuliah, ataupun saat dosen yang harusnya mengajar tidak masuk kelas. Aku menggambar sketsa wajahnya saat dia tidak melihat ke arahku, aku bahkan melakukannya diam-diam, aku takut dia tau aku sedang menggambarnya dalam berbagai macam eskpresi, aku takut dia menganggapku aneh, jadi yang bisa aku lakukan hanya menggambarnya diam-diam, mengabadikan setiap ekspresi wajah cerianya dalam sketsaku. Ah, mengapa aku begitu senang saat melihatnya tersenyum…

Entah sudah berapa lama aku menjalankan hobiku ini, menggambar sketsa dengan satu objek. Menggambar di pojok kelas saat dia tidak melihat ke arahku sudah menjadi candu dalam keseharianku di kelas, bahkan saat dosen menjelaskan materi kuliah, aku selalu mencuri pandang ke arahnya, sekedar untuk melihat ekspresi seriusnya yang sedang memperhatikan dosen. Tidak terhitung sudah berapa banyak sketsa wajahnya yang aku buat di buku tulis ini.

Semakin aku membuat sketsa tentang dirinya, aku mulai merasa ada yang  berbeda dengan perasaanku. Kemarin aku hanya senang mengamati ekspresi wajah cerianya yang tidak membosankan untuk aku jadikan objek sketsaku, tapi perasaan kali ini berbeda, aku jadi ingin tahu dia lebih dalam, aku ingin tahu apa yang dia lakukan setiap harinya, aku ingin tahu cerita apa yang ada di balik wajahnya yang selalu tersenyum dan tertawa riang itu. Dan ada kalanya juga aku ingin sekali menyentuh wajahnya secara nyata, tidak hanya menyentuh wajahnya di sketsa yang aku buat. Ahh… perasaan apa ini ya Tuhan, aku tau dia tidak akan pernah melihatku, seperti dia tidak pernah melihat ke arahku saat aku membuat sketsa dirinya.


Akhirnya meskipun sekarang aku dan dia dapat bertegur sapa seperti teman-teman lainnya, aku tidak pernah sanggup memberitahu dia tentang sketsa-sketsa dirinya yang sudah aku buat semenjak semester satu. Aku takut dia akan menjauhiku karena hal itu. Biarlah seperti ini, aku dan dia layaknya teman-teman sekelasku yang lain, bertegur sapa saat bertemu di jalan, saling bertanya tentang tugas-tugas apa saja yang diberikan dosen kami, atau bahkan saling berkirim jawaban ketika ujian. Aku dan dia, memang harusnya seperti itu saja. Menggambar sketsa tentang dirinya diam-diam, dan membiarkan perasaan tentangnya dalam hatiku tumbuh dalam diam. Seperti sketsa ini yang tak bisa berbicara, seperti sketsa ini yang akan selalu diam.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos