Hari ini sama seperti hari-hari
sebelumnya, jari-jariku juga masih mengetikkan semua perasaan yang aku rasakan,
dan kejadian yang aku alami. Ditemani secangkir coklat hangat kesukaanku, aku
kembali mengetik semua cerita yang aku alami di kampus. Baiklah dari sini ceritanya bermulai…
Akhir-akhir ini aku kembali
menekuni kebiasaan lama yang sudah lama tidak aku kerjakan. Menggambar sketsa.
Iya, menggambar sketsa adalah hobiku sejak di sekolah dasar, aku suka menggambar
apa saja yang aku lihat, semuanya bisa menjadi objek sketsaku, bahkan semuanya
pun bisa menjadi kanvas tempatku menggambar sketsa, aku masih ingat bagaimana
aku membuat marah ibuku sewaktu SD dulu karena aku menggambari semua
dinding-dinding rumah dengan gambar abstrak yang dibuat oleh tangan kecilku
waktu itu. Hingga aku duduk di bangku SMA, aku mulai meninggalkan kebiasaanku
menggambar sketsa, mulai lupa dengan hobi menggambar apa saja yang aku lihat.
Tapi hari itu, hari ketika aku
menyandang predikat sebagai mahasiswa, aku kembali ingat dengan hobi menggambar
sketsaku. Hari itu Aku kembali memegang pensil 2b dan sebuah buku tulis kosong
lalu kemudian mulai menggambar sketsa dengan satu objek. Objek yang sedari tadi
aku perhatikan di dalam kelas, objek sketsaku yang terus tertawa dan mengoceh
tak jelas dengan teman-teman sekelasku, objek yang membuat hatiku kembali tergerak
untuk menggambar sketsa. Dia – sang objek sketsaku ini adalah sesosok laki-laki
yang selalu tertawa, pembawaannya begitu riang, melihatnya seperti itu dia terihat
seperti tidak memiliki masalah dan tidak pernah sedih, sangat berbeda dengan
diriku yang memiliki banyak masalah dalam hidup dan aku simpan rapat-rapat
dalam hatiku sendiri.
Hari itu, aku menggambar sketsa
wajahnya, menggambar setiap detail raut wajah dan ekspresinya. Aku menggambar
sketsa wajahnya setiap jam pergantian kuliah, ataupun saat dosen yang harusnya
mengajar tidak masuk kelas. Aku menggambar sketsa wajahnya saat dia tidak
melihat ke arahku, aku bahkan melakukannya diam-diam, aku takut dia tau aku
sedang menggambarnya dalam berbagai macam eskpresi, aku takut dia menganggapku
aneh, jadi yang bisa aku lakukan hanya menggambarnya diam-diam, mengabadikan
setiap ekspresi wajah cerianya dalam sketsaku. Ah, mengapa aku begitu senang
saat melihatnya tersenyum…
Entah sudah berapa lama aku
menjalankan hobiku ini, menggambar sketsa dengan satu objek. Menggambar di
pojok kelas saat dia tidak melihat ke arahku sudah menjadi candu dalam
keseharianku di kelas, bahkan saat dosen menjelaskan materi kuliah, aku selalu
mencuri pandang ke arahnya, sekedar untuk melihat ekspresi seriusnya yang
sedang memperhatikan dosen. Tidak terhitung sudah berapa banyak sketsa wajahnya
yang aku buat di buku tulis ini.
Semakin aku membuat sketsa
tentang dirinya, aku mulai merasa ada yang
berbeda dengan perasaanku. Kemarin aku hanya senang mengamati ekspresi
wajah cerianya yang tidak membosankan untuk aku jadikan objek sketsaku, tapi
perasaan kali ini berbeda, aku jadi ingin tahu dia lebih dalam, aku ingin tahu
apa yang dia lakukan setiap harinya, aku ingin tahu cerita apa yang ada di
balik wajahnya yang selalu tersenyum dan tertawa riang itu. Dan ada kalanya juga aku
ingin sekali menyentuh wajahnya secara nyata, tidak hanya menyentuh wajahnya di
sketsa yang aku buat. Ahh… perasaan apa ini ya Tuhan, aku tau dia tidak akan
pernah melihatku, seperti dia tidak pernah melihat ke arahku saat aku
membuat sketsa dirinya.
Akhirnya meskipun sekarang aku
dan dia dapat bertegur sapa seperti teman-teman lainnya, aku tidak pernah
sanggup memberitahu dia tentang sketsa-sketsa dirinya yang sudah aku buat
semenjak semester satu. Aku takut dia akan menjauhiku karena hal itu. Biarlah
seperti ini, aku dan dia layaknya teman-teman sekelasku yang lain, bertegur
sapa saat bertemu di jalan, saling bertanya tentang tugas-tugas apa saja yang
diberikan dosen kami, atau bahkan saling berkirim jawaban ketika ujian. Aku dan
dia, memang harusnya seperti itu saja. Menggambar sketsa tentang dirinya
diam-diam, dan membiarkan perasaan tentangnya dalam hatiku tumbuh dalam diam. Seperti
sketsa ini yang tak bisa berbicara, seperti sketsa ini yang akan selalu diam.





















0 komentar:
Posting Komentar