"Ku kira memang rindu tak pernah bernama,
Kesepian adalah bahasanya,
Dan diam adalah cara kita untuk memahaminya..."
Detik jarum jam terdengar begitu kejam jika sudah selarut ini. Hening.... Dan aku masih terjaga. Entah kenapa mataku enggan terlelap, meski aktivitas yang aku lalui seharian ini begitu melelahkan. "Ah, badanku memang lelah, tapi bagaimana aku bisa tidur jika otak ini tiada henti memikirkanmu sepanjang malam," pikirku.
Aku ingat dengan jelas, dulu saat senja mulai datang, kau dengan senyummu yang meneduhkan, selalu menjemputku di rumah. Mengajakku menikmati secangkir kopi bersama di kedai kopi di ujung jalan.
Aku ingat dengan jelas, duduk di belakangmu, di atas motor yang selalu kau banggakan itu, merasakan sejuknya udara sore di balik punggungmu yang tegap.
Aku ingat dengan jelas, kau memesan 2 cangkir kopi sambil tertawa dengan gurauanmu yang tidak lucu dengan ibu pemilik kedai kopi. Namun hal itu tak mengangguku sama sekali, justru tawamu lah yang paling aku tunggu. Iya, aku menggilai tawamu, tawa bahagia yang menentramkan sukmaku.
Tapi aku lebih mengingat dengan jelas, bahwa semua itu hanyalah ingatan-ingatan. Memori yang hanya menjadi bagian kisah masa lalu. Aku tau perubahan adalah keniscayaan. Tidak akan ada yang bertahan dalam keadaan yang sama dalam waktu yang lama.
Pelangi pernah menemani kita melewati hari bersama. Kemudian rintik-rintik hujan muncul, mengaburkan suara-suara kita, menghembuskan pondasi yang baru kita dirikan kemarin. Lalu pelangi muncul lagi setelah rintik hujan berlalu, tapi kita sama-sama tak menyadari, mungkin kita dibutakan oleh kesibukan masing-masing.
Sore yang tak sama. Malam ini pun juga tak sama.
Di sela-sela hening ini, aku benar-benar rindu. Rindu dengan segala yang ada pada dirimu, pada kisah kita.
Suatu sore di penghujung hari, aku harap kita punya 2 cangkir kopi di atas meja dan entah kapan akan menikmatinya bersama lagi dengan tidak tergesa-gesa...




















0 komentar:
Posting Komentar