Minggu, 30 Maret 2014

SHMILY

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 20.40
Hari ini saya akan menulis sebuah kisah singkat atau bahasa tepatnya re-write tentang salah satu kisah yang pernah saya baca di novel "Chicken Soup For The Soul"
Jangan bilang saya copy-paste yah, karena di sini saya akan menulis kisah tersebut dengan bahasa dan kacamata saya sendiri. Menulis itu masih sebuah proses untuk saya, dan saya pun masih belajar menulis, jadi cara terbaiknya adalah menulis ulang kisah atau cerita yang pernah saya baca. Ibarat penjahit pemula, yang membongkar baju yang sudah jadi untuk kemudian dijahit ulang oleh si penjahit supaya dia cepat memahami bagaimana cara menjahit sebuah baju :)

Well, from here the story began....



Ini kisah tentang kakek dan nenekku. Kisah tentang cinta sepanjang hayat. Dulu aku tidak pernah percaya jika dua orang manusia dapat mencintai selamanya, mencintai hingga waktu yang memisahkan, menurutku itu hanya sebuah klise. Hingga akhirnya, statementku itu berubah saat aku melihat sendiri bagaimana kakek dan nenekku saling mencintai satu sama lain...

Kakek dan nenekku punya hoby aneh, mereka sering memainkan game "Find-the-words" yang menurutku itu menggelikan. Bayangkan saja, mereka berdua terus menulis SHMILY di semua bagian rumah. Jadi permainannya, siapa pun di antara mereka berdua yang menemukan kata aneh "SHMILY" di rumah, harus balik menulisnya juga di tempat yang lain.

Jadilah aku juga ikut-ikutan sering melihat SHMILY di tulis di cermin kamar mandi dengan uap, di tisu toilet yang tergulung, di atas telur dadar yang ditulis dengan saos tomat, di pekarangan rumah, bahkan di tempat yang tak terbayangkan sekalipun. Kakek dan nenek ada-ada saja, pikirku.

Hingga suatu saat, nenek jatuh sakit, keadaanya begitu lemah, mereka berdua tidak memainkan FIND-THE-WORDS itu lagi. Kakek nenek justru rajin pergi ke gereja berdua, berdoa bersama agar nenek diberikan kesembuhan, setiap pagi mereka berdua terus ke gereja, berjalan kaki bersama menelusuri jalan setapak yang di sisi jalannya ditumbuhi banyak pohon maple.

Minggu-minggu pertama nenek masih kuat berjalan kaki, di minggu berikutnya nenek harus didorong dengan kursi roda oleh kakek. Di minggu-minggu terakhir, kakek pun pergi sendiri ke gereja, karena nenek sudah tak kuat lagi keluar rumah. Nenek hanya bisa berbaring di ranjangnya yang hangat, mengunggu kakek pulang dari gereja, menunggu kekasihnya itu yang tengah mendoakan kesembuhannya di sana.

Waktu itu pun tiba, nenek sudah berbaring cantik di dalam gereja, memakai gaun pengantinnya yang masih terlihat sebagus seperti pertama kali saat dia pakai di hari pernikahannya. Iya, nenek akhirnya menutup mata untuk selamanya.

Kami tengah berada di upacara pemakamannya sekarang, bersama kakek tentunya. Aku melihat ke wajah kakek, yang betul-betul sendu. Aku yakin dia ingin menangis sekarang. Namun ternyata tidak, ketika orang-orang sudah beranjak pergi dari gereja. Aku melihat kakek mendekati peti mati nenek, dia menyanyikan sebuah lagu untuk nenek, lagu ninabobo. Setelah selesai bernyanyi kakek mengecup kening nenek dan meletakkan sebuah kertas di dalam petinya, kemudian pergi..

Aku yang mengintip dibalik pintu gereja penasaran dengan tingkah kakek, aku tergerak untuk melihat benda apa yang diletakkan kakek untuk terakhir kalinya di peti mati nenek.
Sebuah kertas merah muda tersimpan rapi di atas tangan nenek yang dibalut sarung tangan. Aku membukanya. Aku tertegun, tanda tanyaku selama ini terjawab. Di kertas merah muda itu tertulis...

See How Much I Love You........

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos