Selasa, 01 Juli 2014

Di Penghujung Sore..

Diposting oleh Aisyah Aishaa di 03.16
Sore kali ini, langit begitu teduh. Senja memerah di ufuk barat..
Sore kali ini, langit terlihat indah dimataku. Garis-garis magenta terbias di antara langit jingga yang berpadu biru..
Disini aku terpaku, di penghujung sore menatap matahari terbenam dalam diamku.


Sungguh benar jika dikatakan hidup hanya terpaku soal sabar dan bersyukur.
Bersabar dalam setiap ujian, cobaan dan setiap liku dera kehidupan. Lalu bersyukur dan merasa cukup atas semua anugerah kebaikan yang Tuhan berikan. 
Tapi terkadang Tuhan menginginkan kebalikannya, suatu saat dalam hidupmu kau benar harus mampu bersyukur untuk setiap cobaan dan ujian yang Tuhan berikan. Dan kau pun benar-benar harus belajar bersabar untuk segala anugerah kebaikan dan bahagia yang Tuhan berikan. Sebab, boleh jadi setiap kebahagiaan yang kau terima adalah cobaan yang melenakan. Membuatmu lupa untuk siap siaga saat kebahagian itu sewaktu-waktu menghilang.

Seperti halnya Cinta...
Suatu kali cinta melenakan. Memesona dengan segala kebahagiaan yang ditawarkan. Menyuntikkan semangat ke aliran darah hingga kau merasa antusias atas setiap hal yang kau lakukan. Membuat harimu menjadi berwarna, seperti berdiri pada sebuah taman hijau maha luas di mana setiap sudutnya dihiasi bunga-bunga, kupu-kupu, dan pelangi. Tapi cinta —suatu kali — menjadi sedemikian menjengkelkan. Membuat wajahmu memasang seringai murung. Mengubah harimu menjadi panjang dengan sunyi dan kesepian. Seperti masuk ke lubang pengap bernama keputusasaan, saat cinta yang kau jaga begitu saja meninggalkanmu dan hilang.

Aku tak mengerti mengapa cinta bisa merupa buah simalakama. Saat dimakan membuat ibu mati, bila dibiarkan membuat ayah mati. Apa yang akan kau pilih ? Buatku, cinta adalah sekumpulan paradoks yang membingungkan. Maka meskipun menyakitkan, cinta tetaplah membahagiakan. Biarkan saja cinta memaknai dirinya sendiri. Seorang ksatria yang tangguh pantang mundur saat panji-panji sudah dikibarkan. Tak mungkin kembali ke belakang, sebab jembatan-jembatan sudah terbakar. Pilihan terbaik adalah terus berjalan.

Maka, jika pada akhirnya cinta membuatmu merasa ditinggalkan dan kehilangan, tetaplah berdiri dengan gagah bersama ketulusan dan kerelaan.  Tapi, kau tak perlu cemas, kan? Jika hanya berfokus pada cinta yang menyakitkan, bagaimana bisa bahagia? Fokus saja pada hal yang membahagiakan, hingga pada apapun yang kau lakukan untuk memaknai cinta, kau akan tetap merasa bahagia. Jangan lupa persiapkan sabar dan syukur saat menjaga cinta yang kau punya, agar kau memiliki kerelaan dan ketulusan untuk memaknai cinta tanpa rengekan.
Lalu, bagaimana cara kau memaknai cinta?
Apa cinta benar-benar harus memiliki?
Jika iya, bagaimana caraku memilikimu?

Salam,
Icha.

1 komentar:

Z on 31 Mei 2015 pukul 06.51 mengatakan...

keren tulisannya mba :)

Posting Komentar

 

Aisyah K :) Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos